Menurut sumber berita tidak tertulis, nama Tangerang berasal dari kata “Tangeran” yang dalam bahasa sunda berarti “tanda”. Tangeran di sini berupa tugu yang didirikan sebagai tanda batas wilayah kekuasaan Banten dan VOC, pada waktu itu. Tangeran tersebut berlokasi dibagian barat Sungai Cisadane (Kampung Grendeng atau tepatnya di ujung jalan Otto Iskandar Dinata sekarang). Tugu tersebut dibangun oleh Pangeran Soegiri, salah satu putra Sultan Ageng Tirtayasa. Pada tugu tersebut tertulis prasasti dalam huruf Arab gundul dengan dialek Banten, yang isinya sebagai berikut :
1. Bismillah peget Ingkang Gusti (dengan nama ALLAH tetap maha Kuasa).
Kemudian kata “Tangeran” berubah menjadi “Tangerang” hal ini disebabkan oleh pengaruh ucapan dan dialek dari tentara kompeni yang berasal dari Makasar. Dimana orang-orang Makasar tidak mengenal huruf mati, akhirnya kata “Tangeran” berubah menjadi “Tangerang”. Adapun menurut kajian buku “Sejarah Kabupaten Tangerang” yang diterbitkan oleh Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Tangerang bekerjasama dengan LPPM Universitas Islam Syekh Yusuf Tangerang, bahwa daerah Tangerang sejak dulu telah mengenal pemerintahan yang berawal dari tiga Maulana yaitu Yudhanegara, Wangsakara dan Santika yang diangkat oleh penguasa Banten dengan pangkat Aria. Tiga Maulana inilah yang kemudian mendirikan Tangerang. Pemerintahan kemaulanaan yang menjadi pusat perlawanan terhadap penjajah di Tigaraksa (pemimpin), mendirikan benteng, disepanjang tepi Sungai Cisadane. Kata “Benteng” ini kemudian menjadi sebutan kota Tangerang. Dalam pertempuran melawan VOC, maulana ini gugur satu persatu. Dengan gugurnya para maulana, maka berakhirlah pemerintahan kemaulanaan di Tangerang. Namun demikian masyarakat mengangap pemerintahan kemaulanaan ini sebagai cikal bakal pemerintahan di Tangerang. Jika dilihat dari hasil sensus penduduk tahun 1905 dan 1930 terlihat bahwa penduduk Tangerang pada waktu itu sudah terdiri dari berbagai etnik. Namun demikian golongan etnik mana yang menjajakkan kaki terlebih dahulu di bumi Tangerang tidak diketahui dengan pasti. Secara garis besar hanya dapat digambarkan komposisi penduduk di Tangerang pada awalnya, yaitu terdiri atas etnik Sunda, Jawa, Betawi, Cina, Arab dan Eropa. Pada masa itu kelompok etnik Sunda sebagian besar menempati daerah Tangerang Selatan dan Tangerang Tengah yang meliputi wilayah kecamatan Tangerang, Cikupa, Serpong, Curug, Tigaraksa dan Legok. Menurut kronik sejarah Banten, kedatangan orang Sunda di Tangerang berawal dari keikut sertaan orang-orang Priangan menyerbu Batavia bersama pasukan Mataram, namun setelah usai perang mereka tidak kembali kedaerahnya melainkan minta izin tetap tinggal di Tangerang. Sampai sekarang mereka dapat diidentifikasikan sebagai orang Sunda, selain mereka tetap menggunakan Bahasa Sunda sebagai bahasa sehari-hari. Mereka menyebut kampung dimana mereka tinggal dengan nama Sunda seperti Kampung Priangan (sekarang Priang), Lengkong Sumedang dan lain-lainnya. Kelompok etnik Sunda masa itu pada umumnya mempunyai mata pencaharian sebagai petani dan mengusahakan barang-barang kerajinan. Mereka umumnya penganut agama Islam yang taat. Kelompok etnik Betawi sebagian besar menempati wilayah sepanjang perbatasan Batavia seperti wilayah kecamatan Teluknaga, Batuceper, Ciledug dan Ciputat. Pada masa itu mereka hidup sebagai petani yang sekaligus juga pedagang. Barang dagangan yang mereka jual terutama buah-buahan dan sayur-sayuran. Wilayah mereka relatif dekat dengan Batavia sehingga memungkinkan mereka menjual hasil pertanian ke Batavia. Mereka ini juga umumnya pemeluk agama Islam yang sangat taat. Kelompok etnik Jawa menempati wilayah Tangerang Barat Laut dan Tangerang Utara terus menyusur pantai utara pulau Jawa, yang meliputi kecamatan Mauk, Kresek dan Rajeg. Kelompok ini jika dilihat dari segi bahasa diperkirakan berasal dari keturunan sisa-sisa prajurit Mataram. Mereka sehari-hari menggunakan bahasa Jawa dan pada umumnya hidup sebagai petani nelayan. Kelompok Etnik Cina diperkirakan datang ke Tangerang, bersamaan dengan Belanda yang menduduki dan membangun Batavia. Pembangunan Kota Batavia pada waktu itu membutuhkan sejumlah tenaga tukang sehingga perlu didatangkan imigran-imigran Cina ke Batavia. Selain itu ada pula orang-orang Cina yang telah tinggal di sini sebelum Belanda datang. Mereka hidup sebagai tukang pembuat arak. Arak buatan orang Cina ini sangat disukai awak kapal Belanda. Di sisi lain Kelompok Etnik Cina bukan hanya memberi sokongan tenaga kerja tetapi mereka juga membantu dalam keuangan pajak. Gelombang besar kedatangan kelompok ini terjadi pada pertengahan abad 18 sehingga berakibat banyak pengangguran dan terjadi gangguan keamanan. Pada tahun 1740 timbul pemberontakan Cina di Batavia. Setelah kejadian itu, kelompok etnik ini dilarang tinggal di kota, selain harus tinggal dalam satu perkampungan agar mudah diawasi. Perkampungan kelompok etnik Belanda sebenarnya merupakan kelompok kecil tetapi menduduki posisi penting, dan kehidupan ekonomi mereka juga lebih baik. Mereka banyak menduduki jabatan tinggi dalam dinas sipil dan militer. Misalnya, waktu itu sebagai direktur dan staf perkebunan. Adapun kelompok yang paling sedikit pada masa itu adalah etnik Arab. Menurut sensus tahun 1905, etnik Arab hanya 20 orang dan sensus tahun 1930 jumlah kelompok meningkat menjadi 185 orang.
Letak Geografis:
Letak Kota Tangerang Selatan
Pada saat ini Kabupaten Tangerang, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Banten dengan luas wilayah 1.110 Km² dan jumlah penduduk 3.187.000 (2003) dengan kepadatan 2.870 jiwa/Km². Adapun Ibukotanya adalah Tigaraksa. Kabupaten ini terletak tepat di sebelah barat Jakarta, berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Provinsi DKI Jakarta di timur, Provinsi Jawa Barat dan Kabupaten Lebak di selatan, serta Kabupaten Serang di barat.
Untuk lebih memeratakan pembangunan di wilayah Kabupaten Tangerang dan sekaligus untuk merespon aspirasi masyarakat Tangerang Selatan dengan melakukan kajian, rancangan dan konsep pemekaran wilayah, maka Pemekaran Wilayah di Kabupaten Tangerang telah mencapai satu kata dimana Pemerintah Daerah dan seluruh komponen masyarakat di Tangerang Selatan telah sepakat terbentuknya kota baru yaitu ”Kota Tangerang Selatan”.
II. Tujuan
Adapun tujuan dari pemekaran wilayah ini adalah: Memacu pemerataan pembangunan dan sekaligus merespon aspirasi masyarakat Tangerang Selatan.
III. Gambaran Umum
Kota Tangerang Selatan, adalah sebuah Kota Baru di Provinsi Banten yang dibentuk dengan Undang-Undang Nomor: 51 Tahun 2008 Tentang Pembentukan Kota Tangerang Selatan, kota ini dibentuk bersamaan dengan pembentukan 12 kota baru lainnya yaitu: Kabupaten Nias Utara, Nias Barat, Kota Gunung Sitoli, Kota Brastagi seluruhnya di Sumatera Utara, Mesuji dan Tulangbawang Barat di Lampung, Pulau Morotai di Maluku Utara, Maibrat dan Tambraw di Papua Barat, Intan Jaya dan Deiyai di Papua serta Sabu Raijua di Nusa Tenggara Timur. Adapun luas wilayah Kota Tangerang Selatan yaitu 18.506 Km² dengan jumlah penduduk 1 (satu) juta jiwa (Tahun 2007) dengan kepadatan 900 jiwa/Km². Sedangkan Ibukotanya adalah Ciputat. Kota Tangerang Selatan ini terletak tepat di sebelah barat DKI Jakarta, yang berbatasan dengan Kabupaten Tangerang di barat, Provinsi DKI Jakarta di timur, Provinsi Jawa Barat (Kabupaten Bogor dan Kota Depok) di selatan, serta Kota Tangerang di utara.
Kota Tangerang Selatan terdiri dari 7 (tujuh) Kecamatan, yaitu: Serpong, Serpong Utara, Setu, Pamulang, Ciputat, Ciputat Timur, dan Pondok Aren. Sedangkan jumlah Desa/Kelurahan sebanyak 54 (lima puluh empat) Desa/Kelurahan, yaitu:
1. Kecamatan Serpong terdiri dari: CILENGGANG, BUARAN, CIATER, LENGKONG GUDANG, LENGKONG GUDANG TIMUR, LENGKONG WETAN, RAWA BUNTU, RAWA MEKAR JAYA, SERPONG.
2. Kecamatan Serpong Utara terdiri dari: JELUPANG, LENGKONG KARYA, PAKU ALAM, PAKU JAYA, PAKULONAN, PONDOK JAGUNG, PONDOK JAGUNG TIMUR.
3. Kecamatan Setu terdiri dari: BABAKAN, BAKTI JAYA, Muncul, KADEMANGAN, KRANGGAN, SETU.
4. Kecamatan Ciputat terdiri dari: CIPAYUNG, CIPUTAT, JOMBANG, SARUA, SARUA INDAH, SAWAH LAMA, SAWAH BARU.
5. Kecamatan Ciputat Timur terdiri dari: RENGAS, CEMPAKA PUTIH, PONDOK RANJI, REMPOA, CIREUNDEU, PISANGAN.
6. Kecataman Pondok Aren terdiri dari: JURANG MANGGU BARAT, JURANG MANGGU TIMUR, PERIGI, PERIGI BARU, PONDOK AREN, PONDOK BETUNG, PONDOK JAYA, PONDOK KACANG BARAT, PONDOK KACANG TIMUR, PONDOK KARYA, PONDOK PUCUNG.
7. Kecamatan Pamulang terdiri dari: PONDOK BENDA, BENDA BARU, KEDAUNG, BAMBU APUS, PAMULANG BARAT, PAMULANG TIMUR, PONDOK CABE ILIR, PONDOK CABE UDIK.
Kota Tangerang Selatan sebagai kota baru di wilayah Propinsi Banten, memiliki peran yang amat penting dalam percaturan kehidupan daerah. Seribu pesona terhias di sana, seratus kepentingan ada di dalamnya, dan seratus masalah sudah menanti. Hampir tidak ada jalan di Kota Tangerang Selatan yang tidak mempunyai masalah, jalan protokol macet dan jalan utamanya banyak yang belum selesai diperbaiki, sungai dan anak sungai perlu dibenahi dimana lebar sungai dari tahun ketahun semakin sempit dan dangkal serta setu sebagai serapan air banyak dibangun pemukiman penduduk secara liar, yang apabila dibiarkan akan mengakibatkan banjir dan kesulitan tersedianya air bersih dikemudian hari. Pasar tradisional harus ditata ulang, kumuh, semrawut, tidak sehat adalah kesan yang harus kita dengar dari orang luar yang pertama kali belanja di sana, sekolah-sekolah negeri baik Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama maupun Sekolah Menengah Atas/Kejuruan yang sangat kurang fasilitasnya sehingga jarang ada sekolah negeri tersebut menjadi sekolah kebanggaan. Begitu juga Rumah Sakit Daerah belum ada dan Puskesmas yang tersebar hampir disetiap kecamatan tidak dikunjungi kalangan menengah atas karena sudah dinilai kurang memiliki pelayanan yang baik dan keterbatasan fasilitasnya, sehingga mereka yang datang hanya berbekal keterpaksaan dan pasrah karena hanya ada uang puluhan ribu yang disimpannya di bawah bantal yang tersisa dan bisa dibawa. Untuk itu, Kota Tangerang Selatan harus berlari mengejar ketinggalannya dari gerbong kereta kemajuan kota-kota lainnya di bumi pertiwi. Masalah yang dihadapinya harus ditata dan diselesaikan dengan cara dan hasil yang terbaik melalui meminij kota yang tepat dan akurat.Dengan meminij kota yang tepat dan akurat, segala permasalahan seperti: kemacetan dapat dikurangi, kesemrawutan pasar dan kotor serta problem lainnya dapat diatasi. Insya ALLAH.
